Apa yang Terjadi dengan Metaverse? Simak Penjelasannya

Fielita Trisra Naripana
18 December, 2025

Masih ingat ketika Mark Zuckerberg tampil dengan avatar tanpa kaki dan meyakinkan dunia bahwa Metaverse adalah masa depan? Saat itu, Meta yang dulu bernama Facebook mengumumkan visi tentang dunia virtual bersama, di mana manusia bisa bekerja, bermain, bersosialisasi, hingga memiliki aset digital.

Crypto meroket, proyek seperti Decentraland dan Sandbox mendapat pendanaan besar, dan teknologi VR dipandang sebagai revolusi berikutnya.

Untuk sesaat, dunia percaya bahwa kita menyaksikan kelahiran era baru internet.
Namun kini, hype tersebut perlahan menghilang. Metaverse tidak berkembang seperti janji awalnya. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?

Asal Usul Metaverse

Konsep Metaverse tidak berasal dari Facebook atau blockchain. Istilah ini pertama kali muncul dalam novel Snow Crash (1992) karya Neal Stephenson, yang menggambarkan dunia virtual 3D imersif di mana manusia hidup melalui avatar digital. Ide serupa tampil dalam film The Matrix dan Ready Player One, meski dengan nuansa distopia.

Proto-Metaverse Sebelum Meta dan Crypto

Sebelum hype modern, beberapa platform sudah mencoba membangun dunia digital bersama:

1. Second Life (2003)

Platform dunia virtual yang memungkinkan pengguna membuat avatar, membeli tanah digital, membangun bisnis, dan menghasilkan uang nyata. Pada 2007, universitas dan perusahaan besar buka kantor virtual di sana. Namun pertumbuhannya melambat karena teknologi belum siap.

2. Habbo Hotel

Ruang sosial berbasis komunitas, fokus pada interaksi dan furnitur digital. Populasinya menurun karena isu keamanan.

3. PlayStation Home

Ruang sosial di PlayStation 3, tutup 2015 namun kini hidup lagi oleh komunitas penggemar. Semua eksperimen tersebut menunjukkan satu hal yang hilang: pengalaman immersive yang benar-benar nyata.

Kebangkitan VR dan Mimpi Baru Metaverse

Tahun 2012, Oculus Rift hadir melalui Kickstarter dan menghidupkan kembali minat pada VR. Facebook membeli Oculus seharga $2 miliar. Lahir pula VRChat, HTC Vive, PlayStation VR, dan game VR populer seperti Beat Saber.

Namun teknologi ini menghadapi kendala besar:

  • Headset VR mahal dan berat
  • Banyak pengguna mengalami motion sickness
  • Pengalaman rumit dan belum ramah pengguna umum

NFT & Crypto: Spekulasi yang Merusak Reputasi Metaverse

Pada 2020–2021, NFT meledak. Tanah digital dan avatar dijual ratusan ribu dolar. Proyek seperti Decentraland, Sandbox, dan Axie Infinity mengklaim bahwa pengguna bisa berinvestasi dalam Metaverse.

Tetapi kenyataannya:

  • Dunia virtual kosong dan tidak menarik
  • Aset mahal namun tidak ada aktivitas berarti
  • Pengguna harian sangat rendah
  • Ekonomi runtuh saat harga crypto jatuh

Kepercayaan publik pun ikut runtuh.

Masuknya Meta dan Realita yang Mengecewakan

Pada 2021, Mark Zuckerberg mengganti nama Facebook menjadi Meta dan menjadikan Metaverse sebagai masa depan perusahaan. Mereka menghabiskan lebih dari $10 miliar per tahun untuk membangun Horizon Worlds.

Namun hasilnya mengecewakan:

  • Avatar tanpa kaki dan grafis sederhana
  • Dunia virtual terasa sepi
  • Minim komunitas dan aktivitas
  • Karyawan Meta sendiri jarang masuk

Sementara itu, platform seperti Roblox, Minecraft, dan VRChat berkembang lebih organik tanpa hype.

AI Mengubah Arah Dunia Teknologi

Saat Meta fokus pada Metaverse, AI generatif seperti ChatGPT, Midjourney, dan Stable Diffusion hadir dan memberikan manfaat nyata tanpa perlu headset mahal. AI memberi solusi hari ini, sementara metaverse memberi mimpi esok hari.

Akibatnya, perusahaan teknologi global beralih fokus ke AI dan mulai memikirkan bagaimana pengembangan kecerdasan buatan dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan transparan.

Isu etika dalam AI menjadi pembahasan penting termasuk tentang privasi, transparansi, dan dampak sosial. Hal ini dijelaskan lebih dalam dalam artikel Etika dalam AI: Menuju Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab dan Transparan

Apakah Metaverse Sudah Mati?

Tidak sepenuhnya. Konsep ruang digital bersama masih hidup, hanya dalam bentuk yang berbeda. Saat ini, versi kecil Metaverse ada dalam:

  • Roblox
  • VRChat
  • Minecraft
  • MMO RPG
  • Discord communities

Mungkin masalahnya bukan pada ide, tetapi cara menjualnya.
Metaverse bukan tentang tanah virtual, tetapi tentang koneksi manusia.

Kesimpulan

Metaverse gagal berkembang bukan karena idenya buruk, tetapi karena:

  • Dijual secara berlebihan oleh korporasi
  • Dipenuhi spekulasi NFT
  • Teknologi VR belum siap
  • AI mencuri perhatian publik

Dunia virtual tetap hidup, tetapi berkembang alami dan berbasis komunitas.

Pada akhirnya, Metaverse adalah tempat orang merasa terhubung meskipun berjauhan.

Baca Juga : Mengenal Metavers dan Perjalanan Evolusinya

Sumber Photo : julien Tromeur on Unsplash

Postingan Lainnya

HubSpot WordPress: Cara Mudah Mengelola CRM Bisnis
Fielita Trisra Naripana
15 January, 2026
Apa yang Terjadi dengan Metaverse? Simak Penjelasannya
Fielita Trisra Naripana
18 December, 2025
Manfaat Website untuk Bisnis: Rahasia Biar Tidak Kalah Saing
Fielita Trisra Naripana
11 December, 2025
1 2 3 15
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram