
Masih ingat ketika Mark Zuckerberg tampil dengan avatar tanpa kaki dan meyakinkan dunia bahwa Metaverse adalah masa depan? Saat itu, Meta yang dulu bernama Facebook mengumumkan visi tentang dunia virtual bersama, di mana manusia bisa bekerja, bermain, bersosialisasi, hingga memiliki aset digital.
Crypto meroket, proyek seperti Decentraland dan Sandbox mendapat pendanaan besar, dan teknologi VR dipandang sebagai revolusi berikutnya.
Untuk sesaat, dunia percaya bahwa kita menyaksikan kelahiran era baru internet.
Namun kini, hype tersebut perlahan menghilang. Metaverse tidak berkembang seperti janji awalnya. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
Konsep Metaverse tidak berasal dari Facebook atau blockchain. Istilah ini pertama kali muncul dalam novel Snow Crash (1992) karya Neal Stephenson, yang menggambarkan dunia virtual 3D imersif di mana manusia hidup melalui avatar digital. Ide serupa tampil dalam film The Matrix dan Ready Player One, meski dengan nuansa distopia.
Sebelum hype modern, beberapa platform sudah mencoba membangun dunia digital bersama:
1. Second Life (2003)
Platform dunia virtual yang memungkinkan pengguna membuat avatar, membeli tanah digital, membangun bisnis, dan menghasilkan uang nyata. Pada 2007, universitas dan perusahaan besar buka kantor virtual di sana. Namun pertumbuhannya melambat karena teknologi belum siap.
2. Habbo Hotel
Ruang sosial berbasis komunitas, fokus pada interaksi dan furnitur digital. Populasinya menurun karena isu keamanan.
3. PlayStation Home
Ruang sosial di PlayStation 3, tutup 2015 namun kini hidup lagi oleh komunitas penggemar. Semua eksperimen tersebut menunjukkan satu hal yang hilang: pengalaman immersive yang benar-benar nyata.
Tahun 2012, Oculus Rift hadir melalui Kickstarter dan menghidupkan kembali minat pada VR. Facebook membeli Oculus seharga $2 miliar. Lahir pula VRChat, HTC Vive, PlayStation VR, dan game VR populer seperti Beat Saber.
Namun teknologi ini menghadapi kendala besar:
Pada 2020–2021, NFT meledak. Tanah digital dan avatar dijual ratusan ribu dolar. Proyek seperti Decentraland, Sandbox, dan Axie Infinity mengklaim bahwa pengguna bisa berinvestasi dalam Metaverse.
Tetapi kenyataannya:
Kepercayaan publik pun ikut runtuh.
Pada 2021, Mark Zuckerberg mengganti nama Facebook menjadi Meta dan menjadikan Metaverse sebagai masa depan perusahaan. Mereka menghabiskan lebih dari $10 miliar per tahun untuk membangun Horizon Worlds.
Namun hasilnya mengecewakan:
Sementara itu, platform seperti Roblox, Minecraft, dan VRChat berkembang lebih organik tanpa hype.
Saat Meta fokus pada Metaverse, AI generatif seperti ChatGPT, Midjourney, dan Stable Diffusion hadir dan memberikan manfaat nyata tanpa perlu headset mahal. AI memberi solusi hari ini, sementara metaverse memberi mimpi esok hari.
Akibatnya, perusahaan teknologi global beralih fokus ke AI dan mulai memikirkan bagaimana pengembangan kecerdasan buatan dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan transparan.
Isu etika dalam AI menjadi pembahasan penting termasuk tentang privasi, transparansi, dan dampak sosial. Hal ini dijelaskan lebih dalam dalam artikel Etika dalam AI: Menuju Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab dan Transparan
Tidak sepenuhnya. Konsep ruang digital bersama masih hidup, hanya dalam bentuk yang berbeda. Saat ini, versi kecil Metaverse ada dalam:
Mungkin masalahnya bukan pada ide, tetapi cara menjualnya.
Metaverse bukan tentang tanah virtual, tetapi tentang koneksi manusia.
Metaverse gagal berkembang bukan karena idenya buruk, tetapi karena:
Dunia virtual tetap hidup, tetapi berkembang alami dan berbasis komunitas.
Pada akhirnya, Metaverse adalah tempat orang merasa terhubung meskipun berjauhan.
Baca Juga : Mengenal Metavers dan Perjalanan Evolusinya
Sumber Photo : julien Tromeur on Unsplash